Angin berhembus membawa lantunan adzan hingga menyentuh telinganya, sementara diufuk cbarat merah merona jingga, duduk dia untuk kesekian kalinya sambil memandang keindahan kota ini, lantunan suara adzan yang terus berkumandang memaksa dia untuk menuruni pilah-pilah tangga untuk menghadap pada sang Khalik. sementara dari jauh terbang puluhan burung gagak sambil berdenang dan bercengkrama dengan kelompoknya, sungguh pemandangan yang sangat menyayat hati dalam kesendirian dan perantauan.
Hampir beberapa bulan lamanya dia meninggalkan orang-orang yang disayanginya, dimana sesekali dia tertawa sinis dengan melihat kelompok gagak yang sedang berberumpul bersama sambil berdendang dan menari, entah dengan keluarganya atau dengan temannya. Kegamangan dan kegalauan hatinya yang selalu dia pendam hampir menjadi karang yang keras, kegelisahan yang menyapanya dia hiraukan dan dia hempaskan jauh melewati kumpulan gagak yang sedang menari dan berdendang diatas langit yang merah.
Malam kesekian dari sekian malam sejak pertama kedatangannya, selalu dia lalui dengan kehampaan dan kesendirian, dia selalu memberi nama malam pertama kali sejak kedatangannya, sampai dia duduk termangu di dalam sudut kamarnya sambil menikmati secangkir kopi dan sebatang rokok untuk menemaninya malam ini, detik demi detik dia lewati hanya menatap gelapnya malam dan pancaran sinar bulan sabit malam itu.
Malam baginya adalah guru yang mengajarkan segala hal dalam hidupnya sementara siang adalah sebuah penantian baginya untuk sebuah pertemuan yang selama ini dia dambakan dan dia rindukan. Karena dia tahu yang hidup di tepi laut, tak takut menyambut maut, tak takut menghadang badai. Sampai akhirnya dia biarkan raganya yang sedang duduk, sementara jiwanya dia biarkan terbang untuk mengenang canda tawa keluarganya yang berada jauh di belahan bumi lainnya.
(September 2006)