Ketika senja menjelang, duduk ia tersipu malu disalah satu terminal, sambil menatap orang-orang yang berlalu-lalang dengan membawa koper-koper besar, entah baru datang atau akan pergi. Senja itu ia dihantar oleh ibu, adik, kakak sepupu, dan keponakannya, yang umurnya baru beranjak 3 tahun, yah ketika itu senja mulai datang dan warna langit pun semakin memerah dihiasi awan-awan hitam yang membuat semaraknya langit senja itu.
Senja itu entah apa yang ada di dalam benaknya, karena dia tidak pernah memikirkannya, dan dia tak pernah memimpikannya, karena dia akan pergi meninggalkan tanah kelahiran dan keluarganya. sambil berjalan keluar, ia menghisap asap tembakau di depan halte pemberhentian taksi, dengan tatapan mata yang kosong melihat disekelilingnya, karena dia tak pernah membayangkan akan kepergiannya pada senja itu.
Detik demi detik dia lalui pada senja itu bagaikan tombak-tombak kecemasan yang siap menghantam, dimana kerinduan akan selalu datang menyertai hari-harinya nanti, sebuah kenyataan yang akan dihadapi dengan kesendirian, dan kehampaan, walau senja itu semakin merah dan pasti berganti dengan gelapnya malam, dia tetap berjalan lurus melewati pintu kaca yang belapis, dijaga deretan security guard yang gagah, dia menghela nafas panjang, sambil menatap keluarganya melambaikan tangan, ia hanya bisa berharap, akan kah ia dapat melihat lagi senyum dan canda tawa keluarganya dikemuan hari, seperti yang semenjak dulu ia rasakan. Ia tetap melangkah.
Dia tak perlu memperlihatkan perasaan berdosa pada keluarganya,sudah hampir setiap hari dia bercengkrama dengan debu jalanan, dia memang bukan perantau, dia selalu berjalan menembus ruang & waktu. Sawah, ladang, lautan yang kadang dia lewati kadang dia singgahi diiringi desiran angin yang berirama sehingga membuat dedaunan bergoyang. dia masih berjalan walau senja itu akan ia lewati, dan dia tetap berjalan entah sampai kapan……..
(July 2006)