Siangnya Siang

Untuk kesekian kalinya siang itu dia pulang pangkuan bumi pertiwi, dalam suasana yang ramai dan lalu lalang kaum urban siang itu, menambah semarak menyambut kedatangannya, tapi sayang, tak ada keluarga atau teman yang menyambutnya, hanya tutur kata yang santun dari beberapa sopir taksi mengajaknya untuk kembali kerumah, dia sendiri dan tetap melangkah. Dia tak bisa menahan diri lebih lama lagi untuk kembali kerumah setelah beberapa menit dia menunggu bagaikan sehari dia berdiri. Ia ingin pulang.

Sampai akhirnya dia memutuskan untuk menaiki salah satu bus milik perusahaan pemerintah yang khusus beroperasi dari bandara menuju kampung halamannya dimana dia dilahirkan, duduk dia bersandar di bangku kedua dari belakang dan bahkan hampir tak ada penumpang yang menduduki di belakang bagian belakang, hanya ditemani oleh teriakan kernet yang lantang dan keras disiang hari yang panas, teriakan yang mungkin sangat mengganggu bagi kita yang sedang beristirahat dan duduk bersantai, tapi tidak untuk seorang kernet yang mencari rezeki di siang itu untuk memanggil-manggil penumpang untuk menaiki busnya.

kegamangan dan kegalauan hatinya, selalu menemani harinya akhir-akhir ini, karena rasa penasaran bercampur haru dan bahagia, mencari sesuatu yang tak pasti mencari sesuatu yang hampir mendekati mimpi, dan sebuah kenyataan yang kadang menimbulkam amarah, benci, dendam, sayang, dan iba harus dia hadapi dengan kesendirian disiang itu sampai akhirnya dia harus dapat memilih dengan pertimbangan dan tanpa harus ada yang merasa dikorbankan atau disingkirkan, karena dia hanya ingin pulang untuk melihat dan bertemu sanak family nya yang telah lama dia rindukan.

Sesekali dia terperangah dan melihat ke luar melalui jendela bus, sebuah kota yang pernah dia didiami semasa sekolahnya dulu membuatnya sedikit asing, dan kini dia kembali melihat perubahan pembangunan yang sangat pesat. Sampai kadang-kadang dia bertanya pada dirinya sendiri, bisakah dia mengikuti, bertahan pada kehidupan saat ini?, apakah yang akan terjadi esok hari, dan mampukah dia melewatinya?, pertanyaan-pertanyaan yang selalu setia bersembunyi dan menemani hari-harinya. Namun kadang pertanyaan tinggallah pertanyaan karena dia harus melihat realita masa depan yang belum terbentuk.

Sorotan mata yang tajam dan selalu memandang kota yang dulu tempat dia menuntut ilmu, hampir setiap sudut gang tak luput dari tatapan matanya, sampai akhirnya bus yang dia tumpangi memasuki jalan bebas hambatan menuju kampung halamannya dengan pemandangan hamparan sawah dan kebun di kiri dan kanan jalan.Lamanya perjalanan waktu itu tidak dia sia-sia kan dia mengisi dengan mengenang masa lalu nya sewaktu menuntut ilmu, karena jalan itu adalah jalan sama di lalui oleh rute bus menuju kampusnya dahulu, dia teringat teman-temannya yang sering bercanda ria dalam bus tanpa pandang junior atau senior, tapi sekarang satu persatu menghilang dan tanpa ada kabar keberadaannya.

Hampir dua jam di dalam perjalanan akhirnya dia tiba didepan pintu rumahnya yang terkunci rapat dan sepertinya memang tidak ada kehidupan didalamnya, lalu dia memutuskan untuk menunggu sambil mengirimkan pesan pendek melalui telepon genggam pada sang adik untuk mengabarkan kepulangannya dan menanyakankeberadaan keluarganya. Duduk dia termangu sambil melihat suasana rumahnya, lalu tiba-tiba dia terperanjat karena dering telpon genggamnya berbunyi dan melalui dia membaca pesan pendek, sang adik mengabarkan bahwa ibu nya sedang sibuk bekerja dan dia harus menunggu sampai berakhirnya jam kantor tiba untuk menunggu kepulangan sang ibu, dan dia masih harus tetap menunggu dan menunggu siang itu.

(November 2006)

Bookmark and Share
Tags: