Sahabat Untuk mu

Sejak dia dilahirkan dia tak tahu tak tahu siapa orang tuanya, hidupnya selalu berpindah-pindah dari satu kasih sayang ke kasih sayang yang lain, dia tak pernah bertanya siapa kedua orang tuanya, dia selalu merasakan sesuatu yang hilang dalam dirinya, dalam kehampaan hidupnya, dia biarkan khayalannya terbang bersama keelawar yang melintas dalam kehidupan masa lalunya, dia hanyalah seorang anak kecil yang hidup dengan keterpakasaan dan diharuskan melewati hidup yang kejam dan keji akibat kesombongan kota yang selalu angkuh dan dan berdiri tegar sambil menatapnya curiga.

Dia berjalan sendiri di jalan yang dia sering lewati dulu, sambil melihat wajah-wajah yang dia kenal dahulu, dia seperti terbangun kembali dalam mimpi yang panjang setelah lama tinggalkan kota ini. Malam yang semakin sunyi, jalan-jalan semakin sepi, malam semakin dingin, dia masih melangkahkan kaki menyusuri jalan kota ini, teringat jelas dalam benaknya masih ada jejak jejak langkah yang dahulu dia tinggalkan, seperti sebuah lukisan-lukisan dinding yang menghiasi tiang-tiang penopang flyover. lukisan yang menggambarkan suatu proses pemberontakan terhadap hati nurani dan gambaran suatu kaum yang protes pada situasi.

Malam boleh berlalu, kelam boleh menghadang, dia tetap berdiri dan berfikir karena dikota ini tempat dia dilahirkan dan dibesarkan walau hanya dari mulut seorang teman, dia pun tetap waspada dan selalu membuka mata sambil mencari sesuatu yang pernah menyapanya dan disapanya dalam hidupnya dahulu. Dia bukan sedang berduka tapi dia sedang menghadapi hidup nyata yang semakin hari semakin terurai maknanya, bahwa hidup adalah sebuah pilihan yang kadang melemparkannya dalam kesepian, kebahagiaan, kesedihan dan bahkan pada hinggap dalam kehidupanorang lain.

Malam itu dia datang padaku dengan wajah sama seperti dahulu, penuh dengan keceriaan dan seperti tak ada beban dipundaknya, padahal dia belum pernah mengetahui keberadaan dan kepastian orang tuanya. Wajah yang selalu memancarkan semangat dan kebahagian. Malam itu kami berkumpul dan berbicara tentang kehidupan, tentang kebudayaan sambil menatap bintang dilangit yang entah dari mana datangnya dan kemana perginya, tetapi selalu memancarkan sinar warna-warni yang indah sambil ditemani secangkir kopi panas dan beberapa batang rokok untuk mengusir rasa kantuk yang menyerang. Hampir 5 tahun kami tak berjumpa, karena kesibukan kami masing-masing dan terlebih jarak yang memisahkan. Malam menjelang pagi dia menceritakan pengembaraanya memahami makna hidup, menerjang deru dan kerasnya gelombang dalam mengarungi lautan kehidupan, dalam lingkaran dia berlindung sambil menatap kehidupan yang telah berlalu yang selalu menyipratkan buih-buih airmata dan darah. Seketika itu pula wajah yang ku lihat penuh dengan kecerian berubah menjadi kecemasan dan kekhawatiran, dengan tatapan mata yang kosong karena teringat kembali siapa orang tuanya dan dimanakan dia kini berada.

Pagi itu aku terbangun dari tidurku karena pancaran matahari pagi yang yang menembus atap daun kirai di goyangkan oleh hembusan angin pagi dan diiringi kicauan burung-burung yang merdu, setengah sadar aku menoleh kesamping kanan dan kiri
dimana aku berada, dan dimana dia sekarang, karena yang aku lihat hanyalah sebuah cangkir kopi hangat yang mungkin belum diminum, dan puntung rokok dalam asbak yang masih mengepukan asap, aku berlari keujung gang yang satu ke ujung
gang lainnya, tapi aku tidak melihatnya.

Malam itu malam yang tidak akan terlupakan, karena malam itu seringkali aku terpaksa berpikir melihat orang lain menjadi gila sebab tak sanggup lagi menahan beban hidup yang semakin berat. sementara dia, mampu bertahan dan menerjang kerasnya gelmbang kehidupan dengan kepalan tangan dan doa, kadang aku hanya bisa melihat dengan mata, tetapi dia bisa melihat dengan mata hati, aku hanya bisa mendengar dengan telinga tapi dia bisa mendengar dengan mata bathin. Dia tak pernah ragu untuk maju dan jangan pernah malu untuk mundur.

Entah dimana kini dia berada, aku selalu menanti hasil perburuan sebagai orang yang diburu, entah dimana dia menanggalkan lelah untuk kembali berjalan, entah dimana dia nanti malam akan singgah untuk melepas kantuknya. Dia berjalan menembus waktu dan mencoba menahan berat beban yang ditindihkannya, sambil melihat mata-mata liar dimana-mana mencari mangsa yang lemah, dan tangan-tangan yang penuh darah menindas sambil tertawa terbahak-bahak. Sahabat hanya sepenggal goresan-goresan yang bisa aku tuliskan untuk mengenangmu.

(Desember 2000-2005)

Bookmark and Share
Tags: