Dikala hujan turun mereka berhenti sejenak, disebuah warung dekat dermaga,yah tempat itu adalah sebuah warung dekat Dermaga tua peninggalan jaman belanda, disana mereka lihat wanita tua dengan kebaya merah yang dikenakan menarik kursi dan menaruhnya di beranda, lalu duduk kemudian memanggil seorang bocah berusia belasan dengan membawa cangkir, …entah kopi…entah teh…..atau air putih, tapi mereka yakin itu pasti hangat karena mengepulkan asap, lalu wanita tua itu menatap kosong tetes-tetes air hujan yang jatuh.
Hampir satu jam berlalu ia tetap termenung sambil menatap kosong derai-derai hujan dengan seksama bahkan mungkin hampir tak ada tetesan yang terlewati oleh pandangannya. Sampai mereka menghampirinya dan mencoba mencairkan suasana dengan mengucapkan salam, tak lama kemudian wanita tua itu menjawab & mulai mengisahkan pada mereka banyak hal, mulai dari keberangkatan orangtua bocah berusia belasan yang membawakannya secangkir kopi hangat… yah secangkir kopi, aku dapat hirup dariaromanya karena aku pun menyukai minuman berkafein ini. Kemudian wanita tua tersebut melayangkan angan-angannya kemasa lampau dimana dia dapat merasakan kasih sayang kedua orangtuanya dimasa lalu, tetapi bocah ini……. Merasakan kasih sayang hanya dari seorang nenek yang lebih banyak batuknya karena orang tuanya mencari nafkah dari satu kota kekota lain.
(Banten Lama juni 2006)