<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>paunklimited &#187; Story</title>
	<atom:link href="http://blog.paunklimited.com/category/story/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://blog.paunklimited.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Mon, 19 Apr 2010 17:42:10 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Siangnya Siang</title>
		<link>http://blog.paunklimited.com/story/lalakon/siangnya-siang-2/#utm_source=feed&amp;utm_medium=feed&amp;utm_campaign=feed</link>
		<comments>http://blog.paunklimited.com/story/lalakon/siangnya-siang-2/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 26 Oct 2009 18:30:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paunk</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lalakon]]></category>
		<category><![CDATA[Story]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.paunklimited.com/?p=32</guid>
		<description><![CDATA[Untuk kesekian kalinya siang itu dia pulang pangkuan bumi pertiwi, dalam suasana yang ramai dan lalu lalang kaum urban siang itu, menambah semarak menyambut kedatangannya, tapi sayang, tak ada keluarga atau teman yang menyambutnya, hanya tutur kata yang santun dari beberapa sopir taksi mengajaknya untuk...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Untuk kesekian kalinya siang itu dia pulang pangkuan bumi pertiwi, dalam suasana yang ramai dan lalu lalang kaum urban siang itu, menambah semarak menyambut kedatangannya, tapi sayang, tak ada keluarga atau teman yang menyambutnya, hanya tutur kata yang santun dari beberapa sopir taksi mengajaknya untuk kembali kerumah, dia sendiri dan tetap melangkah. Dia tak bisa menahan diri lebih lama lagi untuk kembali kerumah setelah beberapa menit dia menunggu bagaikan sehari dia berdiri. Ia ingin pulang.</p>
<p style="text-align: justify;">Sampai akhirnya dia memutuskan untuk menaiki salah satu bus milik perusahaan pemerintah yang khusus beroperasi dari bandara menuju kampung halamannya dimana dia dilahirkan, duduk dia bersandar di bangku kedua dari belakang dan bahkan hampir tak ada penumpang yang menduduki di belakang bagian belakang, hanya ditemani oleh teriakan kernet yang lantang dan keras disiang hari yang panas, teriakan yang mungkin sangat mengganggu bagi kita yang sedang beristirahat dan duduk bersantai, tapi tidak untuk seorang kernet yang mencari rezeki di siang itu untuk memanggil-manggil penumpang untuk menaiki busnya.</p>
<p style="text-align: justify;">kegamangan dan kegalauan hatinya, selalu menemani harinya akhir-akhir ini, karena rasa penasaran bercampur haru dan bahagia, mencari sesuatu yang tak pasti mencari sesuatu yang hampir mendekati mimpi, dan sebuah kenyataan yang kadang menimbulkam amarah, benci, dendam, sayang, dan iba harus dia hadapi dengan kesendirian disiang itu sampai akhirnya dia harus dapat memilih dengan pertimbangan dan tanpa harus ada yang merasa dikorbankan atau disingkirkan, karena dia hanya ingin pulang untuk melihat dan bertemu sanak family nya yang telah lama dia rindukan.</p>
<p style="text-align: justify;">Sesekali dia terperangah dan melihat ke luar melalui jendela bus, sebuah kota yang pernah dia didiami semasa sekolahnya dulu membuatnya sedikit asing, dan kini dia kembali melihat perubahan pembangunan yang sangat pesat. Sampai kadang-kadang dia bertanya pada dirinya sendiri, bisakah dia mengikuti, bertahan pada kehidupan saat ini?, apakah yang akan terjadi esok hari, dan mampukah dia melewatinya?, pertanyaan-pertanyaan yang selalu setia bersembunyi dan menemani hari-harinya. Namun kadang pertanyaan tinggallah pertanyaan karena dia harus melihat realita masa depan yang belum terbentuk.</p>
<p style="text-align: justify;">Sorotan mata yang tajam dan selalu memandang kota yang dulu tempat dia menuntut ilmu, hampir setiap sudut gang tak luput dari tatapan matanya, sampai akhirnya bus yang dia tumpangi memasuki jalan bebas hambatan menuju kampung halamannya dengan pemandangan hamparan sawah dan kebun di kiri dan kanan jalan.Lamanya perjalanan waktu itu tidak dia sia-sia kan dia mengisi dengan mengenang masa lalu nya sewaktu menuntut ilmu, karena jalan itu adalah jalan sama di lalui oleh rute bus menuju kampusnya dahulu, dia teringat teman-temannya yang sering bercanda ria dalam bus tanpa pandang junior atau senior, tapi sekarang satu persatu menghilang dan tanpa ada kabar keberadaannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Hampir dua jam di dalam perjalanan akhirnya dia tiba didepan pintu rumahnya yang terkunci rapat dan sepertinya memang tidak ada kehidupan didalamnya, lalu dia memutuskan untuk menunggu sambil mengirimkan pesan pendek melalui telepon genggam pada sang adik untuk mengabarkan kepulangannya dan menanyakankeberadaan keluarganya. Duduk dia termangu sambil melihat suasana rumahnya, lalu tiba-tiba dia terperanjat karena dering telpon genggamnya berbunyi dan melalui dia membaca pesan pendek, sang adik mengabarkan bahwa ibu nya sedang sibuk bekerja dan dia harus menunggu sampai berakhirnya jam kantor tiba untuk menunggu kepulangan sang ibu, dan dia masih harus tetap menunggu dan menunggu siang itu.</p>
<p style="text-align: justify;">(November 2006)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.paunklimited.com/story/lalakon/siangnya-siang-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Surat dari Dhaka</title>
		<link>http://blog.paunklimited.com/story/lalakon/surat-dari-dhaka/#utm_source=feed&amp;utm_medium=feed&amp;utm_campaign=feed</link>
		<comments>http://blog.paunklimited.com/story/lalakon/surat-dari-dhaka/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 26 Oct 2009 18:23:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paunk</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lalakon]]></category>
		<category><![CDATA[Story]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.paunklimited.com/?p=26</guid>
		<description><![CDATA[Angin berhembus membawa lantunan adzan hingga menyentuh telinganya, sementara diufuk cbarat merah merona jingga, duduk dia untuk kesekian kalinya sambil memandang keindahan kota ini, lantunan suara adzan yang terus berkumandang memaksa dia untuk menuruni pilah-pilah tangga untuk menghadap pada sang Khalik. sementara dari jauh terbang...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Angin berhembus membawa lantunan adzan hingga menyentuh telinganya, sementara diufuk cbarat merah merona jingga, duduk dia untuk kesekian kalinya sambil memandang keindahan kota ini, lantunan suara adzan yang terus berkumandang memaksa dia untuk menuruni pilah-pilah tangga untuk menghadap pada sang Khalik. sementara dari jauh terbang puluhan burung gagak sambil berdenang dan bercengkrama dengan kelompoknya, sungguh pemandangan yang sangat menyayat hati dalam kesendirian dan perantauan.</p>
<p style="text-align: justify;">Hampir beberapa bulan lamanya dia meninggalkan orang-orang yang disayanginya, dimana sesekali dia tertawa sinis dengan melihat kelompok gagak yang sedang berberumpul bersama sambil berdendang dan menari, entah dengan keluarganya atau dengan temannya. Kegamangan dan kegalauan hatinya yang selalu dia pendam hampir menjadi karang yang keras, kegelisahan yang menyapanya dia hiraukan dan dia hempaskan jauh melewati kumpulan gagak yang sedang menari dan berdendang diatas langit yang merah.</p>
<p style="text-align: justify;">Malam kesekian dari sekian malam sejak pertama kedatangannya, selalu dia lalui dengan kehampaan dan kesendirian, dia selalu memberi nama malam pertama kali sejak kedatangannya, sampai dia duduk termangu di dalam sudut kamarnya sambil menikmati secangkir kopi dan sebatang rokok untuk menemaninya malam ini, detik demi detik dia lewati hanya menatap gelapnya malam dan pancaran sinar bulan sabit malam itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Malam baginya adalah guru yang mengajarkan segala hal dalam hidupnya sementara siang adalah sebuah penantian baginya untuk sebuah pertemuan yang selama ini dia dambakan dan dia rindukan. Karena dia tahu yang hidup di tepi laut, tak takut menyambut maut, tak takut menghadang badai. Sampai akhirnya dia biarkan raganya yang sedang duduk, sementara jiwanya dia biarkan terbang untuk mengenang canda tawa keluarganya yang berada jauh di belahan bumi lainnya.</p>
<p style="text-align: justify;">(September 2006)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.paunklimited.com/story/lalakon/surat-dari-dhaka/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cerita Senja</title>
		<link>http://blog.paunklimited.com/story/lalakon/siangnya-siang/#utm_source=feed&amp;utm_medium=feed&amp;utm_campaign=feed</link>
		<comments>http://blog.paunklimited.com/story/lalakon/siangnya-siang/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 26 Oct 2009 18:19:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paunk</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lalakon]]></category>
		<category><![CDATA[Story]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.paunklimited.com/?p=22</guid>
		<description><![CDATA[Ketika senja menjelang, duduk ia tersipu malu disalah satu terminal, sambil menatap orang-orang yang berlalu-lalang dengan membawa koper-koper besar, entah baru datang atau akan pergi. Senja itu ia dihantar oleh ibu, adik, kakak sepupu, dan keponakannya, yang umurnya baru beranjak 3 tahun, yah ketika itu senja...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Ketika senja menjelang, duduk ia tersipu malu disalah satu terminal, sambil menatap orang-orang yang berlalu-lalang dengan membawa koper-koper besar, entah baru datang atau akan pergi. Senja itu ia dihantar oleh ibu, adik, kakak sepupu, dan keponakannya, yang umurnya baru beranjak 3 tahun, yah ketika itu senja mulai datang dan warna langit pun semakin memerah dihiasi awan-awan hitam yang membuat semaraknya langit senja itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Senja itu entah apa yang ada di dalam benaknya, karena dia tidak pernah memikirkannya, dan dia tak pernah memimpikannya, karena dia akan pergi meninggalkan tanah kelahiran dan keluarganya. sambil berjalan keluar, ia menghisap asap tembakau di depan halte pemberhentian taksi, dengan tatapan mata yang kosong melihat disekelilingnya, karena dia tak pernah membayangkan akan kepergiannya pada senja itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Detik demi detik dia lalui pada senja itu bagaikan tombak-tombak kecemasan yang siap menghantam, dimana kerinduan akan selalu datang menyertai hari-harinya nanti, sebuah kenyataan yang akan dihadapi dengan kesendirian, dan kehampaan, walau senja itu semakin merah dan pasti berganti dengan gelapnya malam, dia tetap berjalan lurus melewati pintu kaca yang belapis, dijaga deretan security guard yang gagah, dia menghela nafas panjang, sambil menatap keluarganya melambaikan tangan, ia hanya bisa berharap, akan kah ia dapat melihat lagi senyum dan canda tawa keluarganya dikemuan hari, seperti yang semenjak dulu ia rasakan. Ia tetap melangkah.</p>
<p style="text-align: justify;">Dia tak perlu memperlihatkan perasaan berdosa pada keluarganya,sudah hampir setiap hari dia bercengkrama dengan debu jalanan, dia memang bukan perantau, dia selalu berjalan menembus ruang &amp; waktu. Sawah, ladang, lautan yang kadang dia lewati kadang dia singgahi diiringi desiran angin yang berirama sehingga membuat dedaunan bergoyang. dia masih berjalan walau senja itu akan ia lewati, dan dia tetap berjalan entah sampai kapan……..</p>
<p style="text-align: justify;">(July 2006)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.paunklimited.com/story/lalakon/siangnya-siang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ada Apa Dengan Wanita Itu</title>
		<link>http://blog.paunklimited.com/story/lalakon/ada-apa-dengan-wanita-itu/#utm_source=feed&amp;utm_medium=feed&amp;utm_campaign=feed</link>
		<comments>http://blog.paunklimited.com/story/lalakon/ada-apa-dengan-wanita-itu/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 26 Oct 2009 18:17:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paunk</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lalakon]]></category>
		<category><![CDATA[Story]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.paunklimited.com/?p=19</guid>
		<description><![CDATA[Dikala hujan turun mereka berhenti sejenak, disebuah warung dekat dermaga,yah tempat itu adalah sebuah warung dekat Dermaga tua peninggalan jaman belanda, disana mereka lihat wanita tua dengan kebaya merah yang dikenakan menarik kursi dan menaruhnya di beranda, lalu duduk kemudian memanggil seorang bocah berusia belasan...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Dikala hujan turun mereka berhenti sejenak, disebuah warung dekat dermaga,yah tempat itu adalah sebuah warung dekat Dermaga tua peninggalan jaman belanda, disana mereka lihat wanita tua dengan kebaya merah yang dikenakan menarik kursi dan menaruhnya di beranda, lalu duduk kemudian memanggil seorang bocah berusia belasan dengan membawa cangkir, …entah kopi…entah teh…..atau air putih, tapi mereka yakin itu pasti hangat karena mengepulkan asap, lalu wanita tua itu menatap kosong tetes-tetes air hujan yang jatuh.</p>
<p style="text-align: justify;">Hampir satu jam berlalu ia tetap termenung sambil menatap kosong derai-derai hujan dengan seksama bahkan mungkin hampir tak ada tetesan yang terlewati oleh pandangannya. Sampai mereka menghampirinya dan mencoba mencairkan suasana dengan mengucapkan salam, tak lama kemudian wanita tua itu menjawab &amp; mulai mengisahkan pada mereka banyak hal, mulai dari keberangkatan orangtua bocah berusia belasan yang membawakannya secangkir kopi hangat… yah secangkir kopi, aku dapat hirup dariaromanya karena aku pun menyukai minuman berkafein ini. Kemudian wanita tua tersebut melayangkan angan-angannya kemasa lampau dimana dia dapat merasakan kasih sayang kedua orangtuanya dimasa lalu, tetapi bocah ini……. Merasakan kasih sayang hanya dari seorang nenek yang lebih banyak batuknya karena orang tuanya mencari nafkah dari satu kota kekota lain.<br />
(Banten Lama  juni 2006)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.paunklimited.com/story/lalakon/ada-apa-dengan-wanita-itu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Senja Kala</title>
		<link>http://blog.paunklimited.com/story/lalakon/senja-kala/#utm_source=feed&amp;utm_medium=feed&amp;utm_campaign=feed</link>
		<comments>http://blog.paunklimited.com/story/lalakon/senja-kala/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 26 Oct 2009 18:05:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paunk</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lalakon]]></category>
		<category><![CDATA[Story]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.paunklimited.com/?p=9</guid>
		<description><![CDATA[Gunung Krakatau yang hampir tenggelam oleh selat sunda diiringi deburan ombak pantai Utara yang selalu kejar-mengejar menuju bibir pantai dibalut warna jingga kala surya tenggelam ketika lantunan azan magrib berkumandang menusuk telinga, memenuhi langit senja itu. Helaan nafas kami terasa berat melawan rasa jenuh dan kantuk...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Gunung Krakatau yang hampir tenggelam oleh selat sunda diiringi deburan ombak pantai Utara yang selalu kejar-mengejar menuju bibir pantai dibalut warna jingga kala surya tenggelam ketika lantunan azan magrib berkumandang menusuk telinga, memenuhi langit senja itu. Helaan nafas kami terasa berat melawan rasa jenuh dan kantuk yang dalam, karena beban pekerjaan yang terasa begitu menindih, sudah beberapa route yang tidak mencapai hasil yang diinginkan.  tapi pemandangan dan ritual rasa syukur ketika magrib membuat hati tentram &amp; nyaman.</p>
<p style="text-align: justify;">Lalu mereka pun menuju sebuah kedai kopi, penjaga kedai pun lalu memasak air dan menghidangkan gorengan. Tak lama kemudian sambil meneguk kopi susu dan menghisap tembakau Dia pun mulai mengeksport data yang mereka kerjakan tadi, hasilnya tak terlalu bagus walau memang ada yang mencapai target, sungguh spesifikasi yang terlalu tinggi, kata-kata yang pantas hanya “turtle cant fly” sebuah judul film yang mengisahkan anak-anak korban perang di kamp pengungsian yang bekerja memetik ranjau-ranjau darat di perbatasan Irak-Turki yang selalu menginginkan kebebasan ditengah invasi Amerika terhadap Irak. Tiba-tiba konsentarasinya buyar ketika deringan telpon genggam berbunyi, Dia megambil dalam selipan ranselku, dan ternyata kawan lamanya yang sudah lama tak bertemu dan bersapa, seketika itu pun, kepenatan, kejenuhan dan rasa kantuk pun sirna oleh percakapan tersebut.<br />
(Carita February 2006)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.paunklimited.com/story/lalakon/senja-kala/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ceritanya Hutan</title>
		<link>http://blog.paunklimited.com/story/lalakon/ceritanya-hutan/#utm_source=feed&amp;utm_medium=feed&amp;utm_campaign=feed</link>
		<comments>http://blog.paunklimited.com/story/lalakon/ceritanya-hutan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 26 Oct 2009 17:58:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paunk</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lalakon]]></category>
		<category><![CDATA[Story]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.paunklimited.com/?p=7</guid>
		<description><![CDATA[Hutan telah mengajarkannya banyak hal. Sejak sepuluh tahun silam ketika dia pertama kali mengenal lebatnya isi rimba raya. Hamparan rumput hijau yang memanjang dan kadang dihalau oleh tingginya pepohonan dan semak belukar, yang sebagiannya dibelah oleh sungai-sungai. Tapi untuk menempuh semua perjalanan itu dia tidak...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Hutan telah mengajarkannya banyak hal. Sejak sepuluh tahun silam ketika dia pertama kali mengenal lebatnya isi rimba raya. Hamparan rumput hijau yang memanjang dan kadang dihalau oleh tingginya pepohonan dan semak belukar, yang sebagiannya dibelah oleh sungai-sungai. Tapi untuk menempuh semua perjalanan itu dia tidak memerlukan angin,dan dia tidak memerlukan kayu, karena dia menyadari Tidak ada kemenangan dalam perburuan, yang ada hanyalah usaha untuk mendekati apa yang lebih benar, sebab kebenaran hanyalah mimpi yang tak pernah tercapai, dia melakukankan pekerjaan demi mencapainya sebuah mimpi dan sebuah harapan.</p>
<p style="text-align: justify;">Lama lelah dia berdiri menantikan sesuatu yang selalu jadi mimpi, ditengah lebatnya rimba yang hampir selalu kelam karena dihalau oleh tinggi dan besarnya pepohonan, dalam kesendirian dan ditemani oleh suara-suara binatang saat itu, dia tetap menunggu dan kadang sesekali melangkah, karena berat beban yang dipikul hampir membuat dia tak bisa berdaya dengan semua ini. Dalam keheningan dan gelapnya malam, dia tetap berjalan dan mencoba untuk bisa keluar dalam kesepian dan kesendirian, karena perburuan yang belum selesai dan hari-harinya selalu saja ditemani oleh kesendiriannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Esok hari adalah hari dimana dia tak akan pernah mengetahui apa yang akan terjadi, esok juga mungkin merupakan hari yang ditunggu-tunggu oleh sebagian orang, dan bahkan mungkin sebagian lagi tidak mau melalui esok, dia tak kan pernah tahu dengan esok, karena esok pasti akan datang menyapanya dan melewatinya. Hari hari yang ia lewati semakin sepi, jalan-jalan yang ia tempuh semakin terjal dan berbatu, ia mencoba tetap berjalan dan bertahan dengan kesendiriannya. Sehingga suatu saat ia bertemu dengan seorang dalang tua yang sedang melakukan perenungan dalam sunyinya malam dan dalam lebatnya rimba, ia tersenyum, ia mengucapkan kata-kata walau hampir ia sendiri tak menyadarinya bahwa ia tidak pernah sendiri dan ia akan terus berburu untuk mendekati apa yang lebih benar, sebabkebenaran hanyalah mimpi yang tak pernah tercapai.</p>
<p style="text-align: justify;">Alam dan hutan adalah teman sejati baginya, karena alam tidak akan pernah mengingkari janjinya, alam dan hutan akan terus menjadi bagian dari hidupnya karena alam dan hutan selalu setia mendengar keluh kesahnya, alam dan hutan selalu menemaninya dalam kesendiriannya dan dalam kebahagiannya, karena kehidupan dia akan selalu berputar bukan hanya bumi yang berputar.</p>
<p style="text-align: justify;">(September 2002)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.paunklimited.com/story/lalakon/ceritanya-hutan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sahabat Untuk mu</title>
		<link>http://blog.paunklimited.com/story/lalakon/sahabat-untuk-mu/#utm_source=feed&amp;utm_medium=feed&amp;utm_campaign=feed</link>
		<comments>http://blog.paunklimited.com/story/lalakon/sahabat-untuk-mu/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 26 Oct 2009 17:56:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paunk</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lalakon]]></category>
		<category><![CDATA[Story]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.paunklimited.com/?p=5</guid>
		<description><![CDATA[Sejak dia dilahirkan dia tak tahu tak tahu siapa orang tuanya, hidupnya selalu berpindah-pindah dari satu kasih sayang ke kasih sayang yang lain, dia tak pernah bertanya siapa kedua orang tuanya, dia selalu merasakan sesuatu yang hilang dalam dirinya, dalam kehampaan hidupnya, dia biarkan khayalannya terbang bersama keelawar...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Sejak dia dilahirkan dia tak tahu tak tahu siapa orang tuanya, hidupnya selalu berpindah-pindah dari satu kasih sayang ke kasih sayang yang lain, dia tak pernah bertanya siapa kedua orang tuanya, dia selalu merasakan sesuatu yang hilang dalam dirinya, dalam kehampaan hidupnya, dia biarkan khayalannya terbang bersama keelawar yang melintas dalam kehidupan masa lalunya, dia hanyalah seorang anak kecil yang hidup dengan keterpakasaan dan diharuskan melewati hidup yang kejam dan keji akibat kesombongan kota yang selalu angkuh dan dan berdiri tegar sambil menatapnya curiga.</p>
<p style="text-align: justify;">Dia berjalan sendiri di jalan yang dia sering lewati dulu, sambil melihat wajah-wajah yang dia kenal dahulu, dia seperti terbangun kembali dalam mimpi yang panjang setelah lama tinggalkan kota ini. Malam yang semakin sunyi, jalan-jalan semakin sepi, malam semakin dingin, dia masih melangkahkan kaki menyusuri jalan kota ini, teringat jelas dalam benaknya masih ada jejak jejak langkah yang dahulu dia tinggalkan, seperti sebuah lukisan-lukisan dinding yang menghiasi tiang-tiang penopang flyover. lukisan yang menggambarkan suatu proses pemberontakan terhadap hati nurani dan gambaran suatu kaum yang protes pada situasi.</p>
<p style="text-align: justify;">Malam boleh berlalu, kelam boleh menghadang, dia tetap berdiri dan berfikir karena dikota ini tempat dia dilahirkan dan dibesarkan walau hanya dari mulut seorang teman, dia pun tetap waspada dan selalu membuka mata sambil mencari sesuatu yang pernah menyapanya dan disapanya dalam hidupnya dahulu. Dia bukan sedang berduka tapi dia sedang menghadapi hidup nyata yang semakin hari semakin terurai maknanya, bahwa hidup adalah sebuah pilihan yang kadang melemparkannya dalam kesepian, kebahagiaan, kesedihan dan bahkan pada hinggap dalam kehidupanorang lain.</p>
<p style="text-align: justify;">Malam itu dia datang padaku dengan wajah sama seperti dahulu, penuh dengan keceriaan dan seperti tak ada beban dipundaknya, padahal dia belum pernah mengetahui keberadaan dan kepastian orang tuanya. Wajah yang selalu memancarkan semangat dan kebahagian. Malam itu kami berkumpul dan berbicara tentang kehidupan, tentang kebudayaan sambil menatap bintang dilangit yang entah dari mana datangnya dan kemana perginya, tetapi selalu memancarkan sinar warna-warni yang indah sambil ditemani secangkir kopi panas dan beberapa batang rokok untuk mengusir rasa kantuk yang menyerang. Hampir 5 tahun kami tak berjumpa, karena kesibukan kami masing-masing dan terlebih jarak yang memisahkan. Malam menjelang pagi dia menceritakan pengembaraanya memahami makna hidup, menerjang deru dan kerasnya gelombang dalam mengarungi lautan kehidupan, dalam lingkaran dia berlindung sambil menatap kehidupan yang telah berlalu yang selalu menyipratkan buih-buih airmata dan darah. Seketika itu pula wajah yang ku lihat penuh dengan kecerian berubah menjadi kecemasan dan kekhawatiran, dengan tatapan mata yang kosong karena teringat kembali siapa orang tuanya dan dimanakan dia kini berada.</p>
<p style="text-align: justify;">Pagi itu aku terbangun dari tidurku karena pancaran matahari pagi yang yang menembus atap daun kirai di goyangkan oleh hembusan angin pagi dan diiringi kicauan burung-burung yang merdu, setengah sadar aku menoleh kesamping kanan dan kiri<br />
dimana aku berada, dan dimana dia sekarang, karena yang aku lihat hanyalah sebuah cangkir kopi hangat yang mungkin belum diminum, dan puntung rokok dalam asbak yang masih mengepukan asap, aku berlari keujung gang yang satu ke ujung<br />
gang lainnya, tapi aku tidak melihatnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Malam itu malam yang tidak akan terlupakan, karena malam itu seringkali aku terpaksa berpikir melihat orang lain menjadi gila sebab tak sanggup lagi menahan beban hidup yang semakin berat. sementara dia, mampu bertahan dan menerjang kerasnya gelmbang kehidupan dengan kepalan tangan dan doa, kadang aku hanya bisa melihat dengan mata, tetapi dia bisa melihat dengan mata hati, aku hanya bisa mendengar dengan telinga tapi dia bisa mendengar dengan mata bathin. Dia tak pernah ragu untuk maju dan jangan pernah malu untuk mundur.</p>
<p style="text-align: justify;">Entah dimana kini dia berada, aku selalu menanti hasil perburuan sebagai orang yang diburu, entah dimana dia menanggalkan lelah untuk kembali berjalan, entah dimana dia nanti malam akan singgah untuk melepas kantuknya. Dia berjalan menembus waktu dan mencoba menahan berat beban yang ditindihkannya, sambil melihat mata-mata liar dimana-mana mencari mangsa yang lemah, dan tangan-tangan yang penuh darah menindas sambil tertawa terbahak-bahak. Sahabat hanya sepenggal goresan-goresan yang bisa aku tuliskan untuk mengenangmu.</p>
<p style="text-align: justify;">(Desember 2000-2005)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.paunklimited.com/story/lalakon/sahabat-untuk-mu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
